COFFEE BREAK: SEDUH SUDAH!!, MAKAR ALA KEDAI KOPI DI TENGAH PANDEMI

By EDI RIYANTO 27 Jun 2020, 12:32:49 WIB Balikpapan
COFFEE BREAK: SEDUH SUDAH!!, MAKAR ALA KEDAI KOPI DI TENGAH PANDEMI

Balikpapan, btv.co.id - Roda Bisnis berubah drastis akibat pandemi virus corona yang merebak di Indonesia. Perubahan ini turut dirasakan pelaku bisnis kedai kopi yang ada di Balikpapan. Hal itu karena kedai kopi yang biasanya menjadi tempat berkumpul, bercengkrama bahkan bekerja, dengan adanya aturan physical distancing menjadi sepi.

Lalu bagaimanakah cara mereka bertahan di tengah situasi pandemi ini?

Baca Lainnya :

Coffee Break Seduh Sudah, tema yang diskusi Malam Karya (Maka-R) Rabu 24 Juni 2020 melalui aplikasi zoom membahas kondisi industri kedai kopi dan strategi bertahan dalam situasi pandemi. Menghadirkan pemantik Juned dari Uncle B, Bobi dari Makanja Coffe, Donny dari Anonim Coffee, dan Febri dari Kopi Dalang, dengan Moderator Maulidye Karsono dari Kata Kerja Coffee & Life, dan Penyelia Lovi Gustian dari Umak Communal Space dan didukung oleh BTV, BTV.CO.ID.

Sebagai sesi pembuka, Bobi dari Makanja coffe memaparkan awal Februari hingga Maret saat pandemi tengah mengalami penyebaran, pendapatan kedai kopi lokal anjlok, sebagian besar bahkan ada tutup.

Mereka yang memilih untuk buka terpaksa memangkas jam operasionalnya. Yang biasanya buka dari pukul 8 pagi hingga 10 malam, hanya dibuka pukul 4 sore hingga pukul 10 malam. Selain itu layanan dine in tidak lagi tersedia, hanya ada layanan take away.

Bobi mengungkapkan, perubahan layanan dari dine in ke take away disebabkan perilaku pelanggan yang merasa risih berada di kedai. Ia pun maklum karena kondisi memang mengharuskan untuk lebih banyak di rumah.

"Sebenarnya itu karena customer sendiri sih, kalau pun kita tetap sediakan layanan dine in, mereka pasti tetap pilih take away," tuturnya.

Hal yang sama juga dirasakan Donny dari Anonim Coffee. Bagaimana tidak, kedai kopinya yang di gaungkan sebagai salah satu kedai kopi hits di Balikpapan, dengan ciri khasnya yang tidak pernah sepi sebagai tempat tongkrongan anak muda berbagai komunitas. Anonim Coffee harus memutar otak, selain karena sepinya pengunjung, ruas jalan yakni Jalan Sungai Ampal yang menjadi akses utama menuju kedai ini turut dibatasi.

Donny mengaku sempat shock dengan kondisi Pandemi ini. Namun kondisi itu juga membuat mereka harus memutar otak untuk tetap bertahan. Salah satunya dengan mengubah cara berjualannya,  yakni ngopi di rumah aja. Pelanggan cukup memesan melalui kontak Anonim Coffee, dan akan diantarkan sendiri tanpa menggunakan jasa ojek online, namun dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan saat pengantaran.

"Layanan tetap kami berikan, kami tawarkan layanan ngopi di rumah aja, customer pesan kami sendiri yang antarkan, tapi dengan tetap protokol kesehatan," terang Donny.

Meski begitu, ia mengakui dalam kurun waktu Februari hingga Maret 2020, orderan yang ia terima bahkan hanya ada dua atau tiga orderan perharinya.

Kini ia juga tengah menekuni cara berjualan kopi botolan, hal itu ia harapkan dapat meningkatkan penjualannya seiring penerapan new normal yang digaungkan pemerintah.

Senada dengan Anonim coffe, kedai Kopi Dalang yang baru saja buka di awal Februari atau belum sebulan beroperasi hingga pandemi covid 19 merebak, terasa memukul langkah awal berkembangnya kedai kopi ini.

Febri owner Kopi Dalang mengaku, bahkan dalam masa awal pandemi tersebut, ia hanya menjual satu gelas kopi dalam sehari. Kondisi itu membuatnya harus melakukan inovasi apapun agar tetap lanjut dan mempertahankan kedainya.

Ia pun mengubah konsep, dari yang dulunya hanya kedai kopi tempat nongkrong, kini menjadi kedai kopi dengan tema seni budaya dan edukasi. Ia pun mengajak seniman-seniman di Balikpapan membantunya mengenalkan konsep barunya ke masyarakat. Baik melalui media sosial maupun secara langsung.

Tidak hanya itu, dari segi penjualan diubah, platform media sosial menjadi fokus jualannya. Dari aplikasi jual beli online hingga facebook dimanfaatkannya. Kini, dengan konsepnya yang baru dan unik, Kedai Kopi Dalang menjadi tempat berkumpulnya seniman-seniman di kota Balikpapan.

Tak jauh berbeda Uncle B turut meradang akibat pandemi covid-19. Junedi Syaputra yang karib disapa Juned menjelaskan akibat pandemi ini, kedai kopi sangat terpukul bahkan hanya mendapatkan 25 persen keuntungan dari yang biasa didapatkan di kondisi normal.

Beberapa pegawainya bahkan harus dirumahkan tanpa di gaji, namun semenjak pelonggaran dari pemerintah kota Balikpapan yang membolehkan tempat keramaian beroperasi, tapi dengan penerapan protokol covid-19, keadaannya perlahan mulai berangsur normal.

Sementara itu Muhammad Fahri, barista juara IBRC 2019 asal Samarinda yang kini menetap di Jakarta mengaku mendapatkan hal baik dari pandemi ini, karena para pengusaha kedai kopi menjadi kreatif dan terus berinovasi. Mulai dari mengubah kemasan produk menjadi lebih unik serta menambahkan berbagai cita rasa yang baru pada produknya. Tentunya hal ini untuk menarik minat para penikmat kopi. (log)

 

Penulis                         : Nita Rahayu             Reporter BTV.CO.ID

Penyunting                  : Lovi Gustian




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 2 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment

Loading....


Kanan - Iklan Sidebar

Subscribe

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.