Gelar Seminar Virtual, Himpunan Mahasiswa Pemerintahan Integratif Unmul Angkat Tema Kliktivisme

By EDI RIYANTO 02 Sep 2020, 10:58:26 WIB Samarinda
Gelar Seminar Virtual, Himpunan Mahasiswa Pemerintahan Integratif Unmul Angkat Tema Kliktivisme

Samarinda, BTV.CO.ID - Sabtu 29 Agustus 2020, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman (Unmul) menggelar Seminar secara virtual, mengangkat tema Kliktivisme dalam Era New Normal tahun 2020. 

Kliktivisme merupakan pemanfaatan media sosial dalam metode online untuk mempromosikan sesuatu  pernyataan yang menarik. Disampaikan oleh Dr Didik Haryannyo, S,sos M.Si, Pada saat new normal baik, berbicara mengenai teknologi, tentu sangat sulit untuk melepaskan diri dari ketergantungan gadget dan juga teknologi. Hal inilah yang mengubah peradaban manusia seperti sampai saat ini. 

“Lihat perubahan penggunaan teknologi itu kemudian berubah peradapan, berubah hajat hidup, yang merubah perilaku, semuanya dirubah dengan adanya teknologi ini. Sejarah kemajuan teknologi ini banyak ditentukan oleh yang kebetulan dari teknologi informasi saat ini,” jelasnya.

Baca Lainnya :

Ia menuturkan, sejarah teknologi komunikasi, banyak dipelajari oleh rekan dari jurusan komunikasi.

Ia menjelaskan, terkait Sejarah perkembangan Komunikasi teknologi komunikasi itu diawali dengan penemuan - penemuan seperti Fotografi, kemudian Telepon, Telepon Radio, Kamera, TV , yang termasuk Televisi awal hitam putih kemudian Komputer, Fotokopi, TV warna kemudian Video Recorder, TV computer, Internet dan Handphone pada tahun 1990.


“Handphone hampir semua orang memilikinya kan,” tandasnya

Semua perkembangannya kemudian merubah tatanan kehidupan manusia, yang kemudian juga menjadi cikal bakal peradaban. Adapun Kelebihan dalam penggunaan teknologi itu sendiri lantaran kecepatan dalam penyampaian pesan dan kemudian mengubah peradaban manusia yang tentunya memang tidak luput dari masalah. Artinya bahwa semua teknologi ini memang berawal dari masalah ketika orang Ingin berkomunikasi jarak jauh dengan orang lain maka mereka kemudian menemukan yang namanya telepon.

“Peradaban manusia setiap tahunnya terus mengalami perkembangan,” jelasnya.

Sementara itu, tampil sebagai pemateri kedua Dr. Moch. Syahri, S.Sos, M.Si, mengatakan, ketika membaca identitas, memang ini menjadi masa depan gerakan politik yang ada. Dimana 175 juta pengguna internet dengan berbagai macam fungsi, kemudian dari 272 juta penduduk Indonesia dan ini menjadi potensi yang luar biasa.

“Misalkan populasi pengguna internet di Indonesia angkanya seperti ini juga saya lihat dari tempat itu yang perlu kita begini Apakah kulit pisang bisa dijadikan gerakan politik di Indonesia pada masa depan ini ? Harus kita diskusikan kalau kita lihat data-data yang saya dapatkan dari situs sosial media ini ada Ironi - Ironi yang perlu kita pikirkan kembali tentang pola perilaku pengguna internet di Indonesia,” jelasnya.

Ia mencontohkan, seperti dari data yang dirilis ini, menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna internet di Indonesia itu banyak mengakses YouTube, WhatsApp, Facebook dan Instagram. Ia juga mengaku, mengambil data dari situs trends24. Dimana nyaris setiap hari disitus tersebut terlihat apa yang trending. Ia menuturkan, misalkan, 39 menit ini tagar iampayne yang berarti ada 20.000 orang yang menulis tagar tersebut. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah Kualitasnya seperti apa ?

“Ini yang masih menjadi pertanyaan besar. Apakah mereka mengetahui dampaknya, atau hanya ikut-ikutan,’ katanya.

Sementara itu, tampil sebagai pemateri terakhir yakni Dr. Muhammad Hairul Saleh, M.A, mengungkapkan, dalam konteks ilmu Politik misalnya dalam ilmu pendek yang bisa dilihat, bahwa perkembangan Teknologi Informasi, faktanya memang bisa memunculkan adanya gerakan-gerakan sosial maupun gerakan-gerakan politik yang akan berujung pada peningkatan partisipasi masyarakat demokrasi. Dalam konteks partisipasi politik misalnya, tingkat partisipasi politik ada dua lembaga dan partisipasi yang tidak berlembaga. Yang masuk dalam partisipasi tidak berlembaga, adalah media sosial. Kenapa ? Ia menuturkan, media sosial tentu akan memunculkan kritik-kritik atau poster protes terhadap suatu pemerintahan ataupun hal lainnya.

“Muncul dalam bentuk tagar tagar sebagai dukungan atau ketidakpuasan masyarakat, dan itu kemudian banyak dimanfaatkan oleh khalayak, yang kemudian ikut - ikutan melakukan klik-klik. Lalu apakah mereka Paham aku tidak tentang apa yang sedang menjadi bahan obrolan,” katanya.

Landasan ini lah yang sebenarnya, banyak membuat masyarakat sulit terlepas dari kemajuan Teknologi, Internet. Banyak berita yang sukar dipercaya kebenarannya beredar di internet, melenggang bebas, tanpa adanya filter. 

“Jangan sampai masyarakat termakan hoax, ikut-ikutan tapi tidak paham apa yang mereka ikuti,” tutupnya.


Penulis : Fahrurajiannur ︳ Biro Samarinda

Penyunting : Shandra Indah Astuti




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Loading....



Subscribe

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.