Redup Redam Seni di Banua hingga Bumi Etam

By EDI RIYANTO 30 Jun 2020, 16:09:11 WIB Balikpapan
Redup Redam Seni di Banua hingga Bumi Etam

Balikpapan, btv.co.id - Geliat seni rupa di berbagai daerah di Indonesia semakin menunjukkan tren positif jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun-tahun belakangan.

Meski begitu, korelasi antara perupa dari berbagai daerah tetap berlangsung baik. Melalui diskusi virtual Umak AI #1 pada Sabtu 27 Juni 2020, Roeang Lovie bekerjasama dengan Balikpapan art Foundation menghadirkan pemantik Citra Swara Dewi, Dosen Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta, Hajriansyah Mag, Seniman Kalimantan Selatan, dan seniman Kalimantan Timur Sastrowanto serta Paul Siregar. Dengan penyelia Lovi Gustian dan moderator Sophie Razak dari Rumah Seni Nirmana.

Sebagai pembicara awal,  Citra Swara Dewi yang juga merupakan kurator Galeri Nasional Indonesia memaparkan bahwa terdapat kecenderungan Jawa Sentris pada perkembangan seni rupa, maksudnya adalah lebih banyak pada perkembangan seni di Jawa, khususnya Jawa Timur, Jogja dan Bali.

Baca Lainnya :

"Ini bukan hal yang perlu diperdebatkan karena sejarah memang banyak lahir di daerah-daerah itu," tuturnya. Perkembangan pesat kesenian di Jawa khususnya dilatar belakangi oleh dua hal, pertama, kelahiran raja-raja terdahulu yang banyak di Jawa, merupakan akar perkembangan seni rupa di daerah itu.

Yang kedua peran perguruan tinggi seni yang lahir di Jawa, yakni didirikannya  ASRI pada tahun 1949, setelah itu didirikanya ITB dan terakhir IKJ. Berbagai Upaya dilakukan lembaga-lembaga kesenian pasca kemerdekaan untuk terus mengembangkan seni, salah satu contohnya, pada tahun 1970an di Taman Ismail Marzuki,

Diadakan pameran besar dengan nama Pameran Seni Indonesia.

Pameran ini merupakan pameran pertama yang mengakomodir seni rupa, bukan hanya di Jawa dan Bali, tapi juga dari luar daerah, seperti Kalimantan dan Sulawesi. Pameran itulah yang kemudian memicu perkembangan seni rupa, baik seni instalasi, kontemporer dan lainnya.

Namun geliat seni rupa kembali harus terhenti pada tahun 1980an. Karena persoalan anggaran dan SDM. Semenjak saat itu, tak ada kegiatan seni yang berjalan. Namun setelah sebuah inisiatif dari pelaku seni Jogja Maman Mahfud, yang mengumpulkan pelaku-pelaku seni yang lain baik dari Kalimantan Timur,  Kalimantan Selatan dan Sulawesi, digelarlah kembali sebuah kegiatan seni yang besar, bahkan diikuti sebanyak 17 provinsi.

Kaltim dan Kalsel ternyata memiliki keterlibatan cukup besar dalam kegiatan seni tersebut. Sebab, dengan adanya kegiatan itu, berhasil meminimalisir kesenjangan seni yang selama ini sentris di Jawa dan Bali.

Semenjak saat itu, terjadilah kebangkitan seni rupa nusantara.

"Saya melihat itu melalui riset saya bagi teman-teman perupa di kaltim dan kalsel, meskipun belum menjangkau semua teman-teman perupa ya," tutupnya.

Peran Pemerintah Terhadap Perkembangan Seni Budaya Dinilai Masih Minim

Hajrianyah, perupa sekaligus pegiat literasi dari Kalimantan Selatan, memaparkan perkembangan seni di daerahnya.

Dipaparkannya bahwa Seni rupa di Kalimantan Selatan memiliki sejarah perkembangan hampir sama dengan seni rupa di Bandung dan Jogja. Dimulai sejak tahun 1947 oleh seorang perupa Salihin kemudian diregenerasi oleh Misbah Tamrin. Misbah Tamrin inilah perupa yang pertama kali menjadi perupa akademis pada tahun 1959.

Dinamika seni rupa di Kalimantan Selatan menjadi terbangun berkat korelasi perupa otodidak dan perupa akademisi. Integrasi itulah yang saling menguatkan, perupa otoditak dan akademis membangun tren kesenian di Kalimantan Selatan.

Meski begitu, Perkembangan seni di Kalimantan Selatan memang redup redam. Apalagi pada tahun 1950an sampai 1960an, namun pada tahun 1970an Pameran seni di Kalimantan Selatan kembali diadakan cukup berkesinambungan, hal itu kemudian menjadi motivasi dan dorongan bangkitnya seni rupa.

Sampai sekarang pameran seni cukup rutin dilaksanakan setiap tahun.

"Beberapa yang kuliah ada yg kembali namun, ada juga yang bertahan di Jojga, hubungan kalsel dan jogja cukup memberi pengaruh besar terhadap seni, Meskipun tidak dapat seeksis d jojga tapi bisa di jadikan semangat," jelas Hajriansyah

Namun seiring potensi perkembangan seni rupa di Kalimantan Selatan nyatanya tidak beriringan dengan dukungan pemerintah setempat. Terbukti dari tidak adanya institusi seni yang bisa menjadi ruang akademisi bagi para perupa, dan tidak tersedianya pasar seni yang bisa mendukung penyaluran seni para perupa.

Kegiatan seni rupa pun hanya tertolong dari beberapa subsidi dari pihak lain, hal itu menjadikan perupa hanya bertumbuh secara mandiri.

Statemen perupa Kalimantan Selatan itu diperkuat oleh Paul Siregar, perupa asal Kalimantan Timur, menurut Paul, berdasarkan jejak sejarah, seni rupa Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur merupakan satu kesatuan.

Pada tahun 1960an banyak perupa Kalimantan Selatan yang mencoba peruntungan ke Kalimantan Timur, khususnya Balikpapan. Berawal dari situ, akhirnya sekira tahun 2006, komunitas seni di Balikpapan mendirikan kampung seni, kemudian pada 2008 diadakanlah Balikpapan Art Festival yang mengadirkan perupa-perupa dari luar Kaltim, seperti Jogja dan Bali. Kegiatan seni seperti itupun terus berkesinambungan.

Lebih lanjut Paul menambahkan, sedangkan untuk pasar seni sendiri khusus di Kaltim, generasi muda bisa dengan mudah menguasai itu, sebab Mural yang paling berpotensi menguasai pasar seni dan kebanyakan anak muda mahir di hal tersebut.

Lebih lanjut Paul berharap, ada kegiatan-kegiatan lain yang bisa menghubungkan perupa Kaltim dengan perupa lainnya dari luar daerah.

"Saya berharap melalui diskusi ini, akan ada kemudian kegiatan yang bisa mempertemukan seniman-seniman lain baik dari kaltim maupun dari luar Kaltim," tutup Paul. (log)

Penulis                               Nita Rahayu                                    Reporter BTV.CO.ID & BTV Balikpapan

Penyunting                     Lovi Gustian




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment