Scroll to top

Bincang Santai Bareng Seniman Balikpapan
User

Bincang Santai Bareng Seniman Balikpapan

Balikpapan, Kepala Pokja Seni Media dan Asrip Direktorat Perfilman Musik dan Media Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Tubagus Sukmana, mengunjungi Rumah Dahor Heritage Balikpapan dalam kegiatan bincang santai bersama komunitas lintas seni di Balikpapan, Selasa (24/5). 

Padakegiatan tersebut Tugas mendapat berbagai masukan, pengalaman, maupun kendala kemajuan kebudayaan seni di Balikpapan. Termasuk eksistensinya baik dalam hal perlindungan karya-karya seni, pemanfaatan, pembinaan SDM atau insan kreatif tersebut yakni seniman dalam mengembangkan potensi. Seniman juga telah berbicara kepada Tubagus mengenai fungsi Gedung Kesenian yang dirasa tidak maksimal. 

“Kendala penggunaan gedung kesenian sebenarnya hampir mirip seperti yang terjadi di daerah lain. Balikpapan patut bersyukur karena beberapa daerah tak memilikinya, ada perhatian sebenarnya dari pemerintah dan pendirian gedung tersebut atas permintaan seniman,” ungakp Tubagus.

Baca Lainnya :

Meski pihak pemerintah daerah telah berupaya memfasilitasi, stakeholder atau pelaku kesenian dinilai semestinya mampu mengelola dari sisi pemanfaatannya. Tubagus mengatakan sudah pernah berkunjung ke Gedung Kesenian, disana dapat digelar pertunjukan teater, musik dan tari. Tapi untuk kegiatan pameran dinilai masih kurang.

Menanggapi persoalan keterbatasan anggaran sehingga Gedung Kesenian jarang dipergunakan, Tubagus mengatakan, unsur militansi dan kemandirian harus terbangun dari pelaku seni karena telah memiliki satu passion, apalagi Pemerintah pusat dan daerah juga tidak menutup mata serta memberikan atensi. 

“Beberapa bulan lalu diluncurkan Dana Indonesiana, atau Dana Abadi Kebudayaan. Dana diberikan tergantung dari mekanisme alokasi dan persetujuan. Bisa digunakan untuk film dokumenter terhadap maestro-maestro daerah, bantuan pengembangan intitusi seperti sanggar tari, misi budaya baik antar provinsi ataupun ke luar negeri,” bebernya.

Dana Indonesiana dari website Kemendikbud disebutkan sebagai kegiatan pendukung, berupa dana hibah yang diberikan kepada suatu kelompok kebudayaan atau perseorangan. 

“Bantuan mulai Rp 50 juta, bahkan sampai ada menyentuh Rp 700 juta. Tergantung event atau program itu sendiri, harus ada penanggung jawab resmi dan mempunyai legalitas atau berbadan hukum,” lanjutnya. 

Terdapat pula bantuan dana alokasi khusus, tapi sementara baru di bidang museum dan taman budaya. Tapi yang pasti, komunitas atau perorangan bisa mencari tidak hanya mengandalkan pemerintah tapi juga melalui corporate social responsibility (CSR).

Terlepas dari keberadaan IKN, kesiapan pelaku seni itu baik dari sisi peningkatkan potensi, juga harus mempunyai ikon kegiatan yang kegiatan bersifat regular dan digelar setiap tahun. Mampu menjadi andalan, yang mendorong orang atau pengunjung agar mau berkunjung ke Balikpapan.

Terhadap dukungan kepada para sineas dari segi regulasi, Tubagus mengatakan tengah mengupayakn revisi kebijakan terkait penggunaan APBD. Sejauh ini, perfilman bisa mendapat suntikan dana APBN pusat, tapi tidak bisa didanai APBD. 

Dia mengemukakan, perfilman di daerah mempunyai potensi, sehingga sebenarnya bisa menggunakan APBD, bukan hanya bioskop tapi juga film pendek. Selama dua tahun ini, pusat juga menggelar kompetensi film pendek. Bagi naskah terpilih dan lolos seleksi, semua akan dibiayai, mulai persiapan sampai pasca produksi. 

Pemenang kompetensi film pendek tersebut diikutkan di pameran nasional maupun internasional. Kami juga punya program nonton bareng atau nobar di beberapa daerah, untuk membangkitkan semangat masyarakat menonton film lokal dan semakin mendukung tumbuhnya ekonomi kreatif di Tanah Air,” ungkapnya.  (Nia)

TAGS:

Write a Facebook Comment

Leave a Comments