Scroll to top

KNKT Ungkap Penyebab Kecelakaan Truk di Simpang Muara Rapak
User

KNKT Ungkap Penyebab Kecelakaan Truk di Simpang Muara Rapak

Balikpapan, Menanggapi kecelakaan lalu lintas simpang Muara Rapak Balikpapan, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengirimkan tiga investigator moda Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ)  ke lapangan.

Tercatat 13 kasus kejadian di lokasi tersebut dalam rentang waktu tahun 2009-2022 Kecelakaan terbaru terjadi pada 21 Januari 2022 sekitar pukul 05.30 WITA yang dialami oleh satu unit mobil truk dengan nomor polisi KT 8534 AJ.

Informasi yang didapat bahwa truk berasal dari Pulau Balang KM 13, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara hendak menuju Kampung Baru Balikpapan Barat dengan membawa peti kemas 20 feet yang berisi 20 ton kapur pembersih air.

Baca Lainnya :

Sebelum melalui jalan menurun pengemudi menggunakan gigi persnelling antara 4-5 sambil beberapa kali melakukan pengereman. Sesaat memasuki Kota Balikpapan di Simpang Muara Rapak, 200 meter mendekati persimpangan pengemudi mencoba melakukan pengereman namun pedal rem terasa keras sehingga rem tidak dapat bekerja. Truk meluncur cepat dan tidak dapat dikendalikan hingga menabrak 4 unit mobil dan 14 unit sepeda motor.

Truk akhirnya berhenti setelah menabrak beton pembatas jalab (kerb) yang berjarak ± 100 meter dari tabrakan beruntun. Peningkatan fatalitas korban pada kecelakaan ini terjadi karena tidak tersedianya jalur penyelamat pada jalan menurun, serta penggunaan perisal besi pada bagian depan truk yang meningkatkan daya rusak saat truk menabrak kendaraan lainnya. Akibat dari kecelakaan ini sebanyak 4 korban jiwa meninggal dunia dan 14 orang luka-luka.

Berdasarkan hasil investigasi dan analisis yang telah KNKT lakukan, disimpulkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan yaitu penggunaan gigi tinggi pada jalan menurun yang memaksa pengemudi melakukan pengereman berulang kali dan hal ini beresiko menurunkan tekanan angin pada tabung angin rem. Selain itu, kondisi kendaraan di mana celah antara kampas dengan tromol di atas ambang batas yang ditetapkan. Pada saat memasuki Simpang Muara Rapak, tekanan angin pada tabung angin rem hanya sisa 5 bar dan hal ini yang menyebabkan pengemudi tidak mampu melakukan pengereman kendaraan sehingga kecelakaan itu terjadi.

Oleh sebab itu, KNKT menerbitkan rekomendasi kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Balai Pengelola Transportasi Darat Wilayah XVII Provinsi Kaltim Kaltara, Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XII Provinsi Kaltim Kaltara, Pemerintah Kota Balikpapan, DPD Aptrindo Kaltim Kaltara, dan Institute Teknologi Kalimatan (ITEKA).

Ketua KNKT, Surjanto Cahyono dalam kegiatan media rilis Kamis (23/06) mengatakan hal yang dilakukan ini merupakan upaya pencegahan agar tidak terjadi hal yang sama. 

"Tujuan kami untuk mencegah kecelakaan yang sama terjadi dikemudian hari." Ujarnya.

"Yang terpenting dari laporan kami adalah rekomendasi untuk perbaikan. Bagaimana pencegahan yang harus kita lakukan. Salah satu alasan lainnya adalah kelelahan dari supir. Masalah kelelahan ini bisa di tanggulangi kedepannya." Terang Surjanto.

Surjanto juga menyinggung masalah antrean solar. Dan menilai kondisi di Balikpapan sudah cukup baik. "Pengemudi merasa kelelahan karena antre solar kelamaan. Kami juga sudah diskusi dengan Pertamina. Ada beberapa solusi kedepan utk mengurangi antrean solar , agar kembali normal. Hal ini bisa di dukung sehingga angkutan barang dapat berjalan lancar dan aman. Apalagi peran pengemudi angkutan umum barang dan jasa ini sangat penting." Jelasnya. (Nia)

TAGS:

Write a Facebook Comment

Leave a Comments